Categories > Games > Animal Crossing
Di sebuah desa terpencil yang dikelilingi hutan lebat, ada legenda tentang makhluk misterius bernama Kael , sang monster tanpa hidung. Konon, Kael dulunya adalah manusia biasa, tetapi suatu kutukan kuno menjadikannya abadi dalam wujud yang mengerikan—wajahnya polos tanpa adanya lubang hidung. Tidak ada yang tahu dari mana asal-usulnya, namun penduduk desa sering berbisik bahwa ia adalah penjaga alam liar, memburu siapa pun yang mencoba merusak hutan.
Legenda itu jarang dipercaya oleh para pendatang baru. Salah satunya adalah seorang pria bernama Reno , seorang pemburu rakus yang hanya peduli pada uang hasil menjual kulit binatang langka. Reno mendengar kabar bahwa di kedalaman hutan tersebut terdapat seekor harimau albino yang sangat langka, dan ia bertekad menangkapnya meskipun penduduk lokal memperingatkannya agar tidak masuk ke sana.
Pada malam bulan purnama, Reno melangkah masuk ke hutan gelap bersama senapan dan beberapa peralatan berburu. Udara dingin menusuk tulang, dan suara-suara aneh mulai terdengar di antara dedaunan. Awalnya, Reno mengabaikan semua hal itu sebagai angin atau burung nokturnal, tapi semakin jauh ia melangkah, semakin kuat perasaan bahwa ia sedang diawasi.
Tiba-tiba, saat ia melewati sebuah pohon besar dengan akar-akar raksasa yang menjalar seperti ular, ia merasakan napas dingin menyapu tengkuknya. Ia berbalik cepat, namun tak ada siapa pun di sana. Yang ia lihat hanyalah sepasang mata merah menyala di balik bayangan pepohonan.
"Siapa di sana?" teriak Reno dengan suara gemetar.
Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang lebih pekat daripada sebelumnya. Lalu, dari balik pohon-pohon tua, sosok itu muncul—seorang makhluk tinggi besar dengan tubuh yang terlihat seperti campuran antara manusia dan binatang buas. Wajahnya kosong, tanpa hidung, hanya ada dua lubang hitam kecil di tempat seharusnya hidung berada. Kulitnya pucat seperti mayat, dan tangannya panjang dengan kuku-kuku tajam seperti cakar.
"Kamu... telah melanggar wilayahku," kata makhluk itu dengan suara rendah dan kasar, seperti batu saling bergesekan.
Reno mundur selangkah demi selangkah, ketakutan menguasainya. Ia mengangkat senapangnya, berusaha menembak, namun peluru yang keluar sama sekali tidak memengaruhi makhluk itu. Seolah-olah tubuhnya terbuat dari sesuatu yang bukan daging.
"Tidak ada senjata yang dapat menyakitiku," kata Kael datar. "Aku tidak memiliki hidung untuk mencium bau kehidupan, namun aku bisa merasakan dosa-dosamu."
Makhluk itu melangkah maju, setiap gerakannya lambat namun penuh tekanan. Reno mencoba lari, tetapi kakinya tersandung akar pohon. Dalam hitungan detik, Kael sudah berdiri tepat di atasnya, cakarnya teracung tinggi.
"Aku tidak butuh udara untuk bernapas," bisiknya, "tapi kamu?"
Tanpa ampun, Kael mencakar wajah Reno, mengoyak dagunya hingga mulutnya terbuka lebar. Reno berteriak kesakitan, tapi suaranya segera teredam saat cakar-cakar itu mulai merobek tenggorokannya. Darah mengalir deras, menggenangi tanah di bawahnya. Tubuh Reno bergetar hebat sebelum akhirnya diam tanpa nyawa.
Kael berdiri diam selama beberapa saat, memandangi mayat Reno dengan tatapan kosong. Kemudian, ia berbalik dan lenyap ke dalam kegelapan hutan. Tak ada lagi jejaknya, hanya aroma besi dari darah segar yang tertinggal.
Sejak hari itu, tak ada lagi pemburu yang berani memasuki hutan tersebut. Penduduk desa kembali tenang, namun mereka tahu bahwa Kael masih ada di sana, mengamati, menunggu siapa pun yang cukup bodoh untuk melanggar aturannya.
Legenda itu jarang dipercaya oleh para pendatang baru. Salah satunya adalah seorang pria bernama Reno , seorang pemburu rakus yang hanya peduli pada uang hasil menjual kulit binatang langka. Reno mendengar kabar bahwa di kedalaman hutan tersebut terdapat seekor harimau albino yang sangat langka, dan ia bertekad menangkapnya meskipun penduduk lokal memperingatkannya agar tidak masuk ke sana.
Pada malam bulan purnama, Reno melangkah masuk ke hutan gelap bersama senapan dan beberapa peralatan berburu. Udara dingin menusuk tulang, dan suara-suara aneh mulai terdengar di antara dedaunan. Awalnya, Reno mengabaikan semua hal itu sebagai angin atau burung nokturnal, tapi semakin jauh ia melangkah, semakin kuat perasaan bahwa ia sedang diawasi.
Tiba-tiba, saat ia melewati sebuah pohon besar dengan akar-akar raksasa yang menjalar seperti ular, ia merasakan napas dingin menyapu tengkuknya. Ia berbalik cepat, namun tak ada siapa pun di sana. Yang ia lihat hanyalah sepasang mata merah menyala di balik bayangan pepohonan.
"Siapa di sana?" teriak Reno dengan suara gemetar.
Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang lebih pekat daripada sebelumnya. Lalu, dari balik pohon-pohon tua, sosok itu muncul—seorang makhluk tinggi besar dengan tubuh yang terlihat seperti campuran antara manusia dan binatang buas. Wajahnya kosong, tanpa hidung, hanya ada dua lubang hitam kecil di tempat seharusnya hidung berada. Kulitnya pucat seperti mayat, dan tangannya panjang dengan kuku-kuku tajam seperti cakar.
"Kamu... telah melanggar wilayahku," kata makhluk itu dengan suara rendah dan kasar, seperti batu saling bergesekan.
Reno mundur selangkah demi selangkah, ketakutan menguasainya. Ia mengangkat senapangnya, berusaha menembak, namun peluru yang keluar sama sekali tidak memengaruhi makhluk itu. Seolah-olah tubuhnya terbuat dari sesuatu yang bukan daging.
"Tidak ada senjata yang dapat menyakitiku," kata Kael datar. "Aku tidak memiliki hidung untuk mencium bau kehidupan, namun aku bisa merasakan dosa-dosamu."
Makhluk itu melangkah maju, setiap gerakannya lambat namun penuh tekanan. Reno mencoba lari, tetapi kakinya tersandung akar pohon. Dalam hitungan detik, Kael sudah berdiri tepat di atasnya, cakarnya teracung tinggi.
"Aku tidak butuh udara untuk bernapas," bisiknya, "tapi kamu?"
Tanpa ampun, Kael mencakar wajah Reno, mengoyak dagunya hingga mulutnya terbuka lebar. Reno berteriak kesakitan, tapi suaranya segera teredam saat cakar-cakar itu mulai merobek tenggorokannya. Darah mengalir deras, menggenangi tanah di bawahnya. Tubuh Reno bergetar hebat sebelum akhirnya diam tanpa nyawa.
Kael berdiri diam selama beberapa saat, memandangi mayat Reno dengan tatapan kosong. Kemudian, ia berbalik dan lenyap ke dalam kegelapan hutan. Tak ada lagi jejaknya, hanya aroma besi dari darah segar yang tertinggal.
Sejak hari itu, tak ada lagi pemburu yang berani memasuki hutan tersebut. Penduduk desa kembali tenang, namun mereka tahu bahwa Kael masih ada di sana, mengamati, menunggu siapa pun yang cukup bodoh untuk melanggar aturannya.
Sign up to rate and review this story